Pikiranku masih melayang jauh, mencoba untuk melepaskan diri dari memori palsu. Memori yang menambah sakit hati dan pikiranku. Entahlah, apa ada julukan sebagai mantan pengemban dakwah.Ingin rasanya ku membantah pikiranku sendiri. Tapi kenyataan didepan mata berkata lain, semua seolah-olah busur panah yang menusuk. Suatu kemaksiatan dalam bentuk lain yang lambat aku sadari. Menumbangkan saudara seperjuangan. Menyurutkan langkah teguhnya.
Jalan dakwah memang tak semulus yang kita bayangkan, seleksi alam terus saja memainkan peranannya. Cobaan dan ujian terus saja datang. Menerpa dan mencoba goyahkan azzam seorang pengemban dakwah. Tak pandang bulu, menyergap serta menyerang siapa saja, yang sudah bertahun-tahun memilih dakwah sebagai jalan hidupnya. Atau seseorang yang baru saja mencoba beranikan diri mengenal tentang indahnya berbagi.
Bermacam ujian dengan segala rupa dan bentuknya terurai, mencari keikhlasan niat dan perasaan sang pengembannya. Bermacam alasan terus saja terucap, sebagai dalih pembenaran diri.
Seseorang disana berujar, “Aku sudah tak sanggup berada di jalan dakwah ini, cobaanku terlalu berat”. Dengan enteng terlontar dari mulut seorang yang merasa hanya dia yang punya masalah dalam hidup ini. Tak taukah ia cobaan hidup sebagai ujian kenaikan tingkat kualitas keimanan.
Disisi lain ada juga yang berkata, “Aku sedang futur, jenuh dan merasa bosan. Biarkan aku sendiri untuk sementara waktu”. Ia lupa jika sendiri dalam futur syeitan yang menemani. Dakwah bukan sekedar rutinitas tanpa konsekwensi, dengan mudah kita mengatakan bosan dan beralih kelain aktivitas yang jauh lebih menyenangkan dan menguntungkan. Atau selingan di kala waktu senggang.
Seseorang yang lain juga tak mau ketinggalan mengungkapkan isi hatinya “Aku masih baru, belum ada pengalaman. Ilmuku juga masih sedikit, jadi… belum siap berdakwah”. Ada kata yang lebih singkat menggantikan ungkapan itu “Aku masih malas berdakwah”. Jauh lebih sederhana bukan? Satu kalimat yang cukup mewakili ribuan alasan.
Seseorang yang merasa memiliki tanggung jawab lebih ikut berseloroh “Aku kepala rumah tangga, kewajibanku menafkahi anak istri”. Ingkarkah ia pada ayat-ayat Allah tentang kewajiban menyeru pada yang ma’ruf dan mencegah pada yang mungkar? Mungkin sedikit terlupa karna kesibukan aktifitas mengumpulkan materi ketika ada dua hal yang wajib maka tak ada alasan meninggalkan salah satunya untuk yang lainnya. Atau ada kebijakan baru dalam dirinya, ketika puasa ramadhan berlangsung maka gugur kewajibannya untuk melaksanakan sholat lima waktu?.
Pohon beringin di sudut lapangan senantiasa menggugurkan daunnya. Jika kita perhatikan lebih seksama tiap lembaran daun yang berjatuhan tak semuanya tua dan menguning. Diantara tumpukan sampah itu ada pula daun yang masih muda dan hijau.
Bahkan yang masih baru bertunas pun bisa kita temukan. Pohon beringin terus tumbuh dan menjulang tinggi. Kuat batangnya yang berdiri menunjukkan kokohnya akar yang menopang.
Rimbun daunnya terus bertunas, memperteduh sekitarnya. Kuat batang dan rindang daunnya sebagai sebuah pertanda, betapa subur tanah sebagai medianya yang mampu menyediakan nutrisi yang di serap oleh akar.
Makin tinggi batangnya menjulang, makin besar pula angin yang berhembus. Salah satu alasan kenapa daunnya gugur berjatuhan.
Sedikit pengibaratan pohon beringin dengan dakwah. Rindang daunnya seperti para pengemban dakwah, yang jatuh dan berguguran bukan hanya mereka yang sudah terlalu lama menyerahkan hidup untuk berdakwah.
Ketika merasa cukup kontribusinya dalam dunia dakwah, maka pensiun pun sudah layak didapat.
Saat dunia sudah sangat mengenalnya, saat nama dan suaranya telah akrab diperdengarkan di seminar-seminar bertemakan Islam, training-training motivosi penggugah semangat juang, diskusi-diskusi publik pengasah pemikiran.
Saat suara lantangnya terlalu sering berorasi menentang kebijakan dzalim sebagai muhasabah para penguasa negeri.
Maka sudah pantas pula ia berujar “Sudah saatnya yang muda yang berkarya”.
Suatu kesombongan diri jika di perhatikan. Perasaan yang mungkin hanya dia seorang pemiliknya. Perlu diperjelas kembali niatannya berdakwah, sekedar mencari nama atau numpang tenar biar terkenal?.
Jika perasaanya mengatakan sudah cukup banyak kontribusinya dalam dunia dakwah dan sudah banyak pahala yang didapat, maka perlu disadari bahwa itu hanya skenario belaka.
Untaian penyejuk jiwa penuh pemanis muka tepatnya. Ataukah aroma hangus terbakarnya kemurnian niat ikhlas yang hanya meninggalkan jelaga pahala tanpa arti.
Ingatlah wahai saudaraku, Allah maha tau prasangka hambanya. Dakwah bukan hanya sekedar tongkat estafet yang ada kalanya harus berpindah tangan, dan saat ituh orang pertama terbebas dari tanggung jawabnya.
Mungkin memang benar estafet dakwah itu ada. Kita mewarisi tongkat estafet dakwah dari Rosulullah, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in serta para ulama terdahulu. Tak sedikit diantara mereka penuh peluh dan bersimbah darah berjuang demi sampai risalah Islam pada umat.
Ukiran ayat al-Quran dan kemasyuran sejarah yang mengabadikan nama merekapun, belum cukup rasanya sebagai bayaran keikhlasan atas melayangnya nyawa mereka demi Islam.
Surga adalah jaminan tertinggi dari Allah yang selalu bisa mengalihkan ganasnya medan tempur melawan kaum kafir. Lalu apa yang pantas kita banggakan?
Apakah sisa-sisa jelaga pahala yang terbakar dari kesia-siannya aktifitas dakwah yang kita lakukan. Atau tak nampaknya kesombangan yang berdiam dalam diri. Hanya kita yang mampu menjawabnya.
Hembusan angin yang menerpa rimbunnya daun beringin terus bertiup, menggoyang lembar demi lembar daunnya. Tak sedikit yang berjatuhan ke tanah. Makin tinggi pohon menjulang, makin besar pula angin yang berhembus. Ibarat dalam hidup ini, masalah dan cobaan silih berganti datang menyapa. Ujian hidup non formal pun dimulai, tanpa buku pelajaran, bangku dan gedung sekolah yang abstrak tetap menuntut terselesaikannya ujian.
Hasil dari lulusnya ujian bukan kenaikan strata atau kelas dalam study, bukan pula dibubuhkannya nilai A dalam raport akhir semester. Tapi kenaikan kualitas keimanan, makin dekatnya seorang hamba pada sang Khaliq karena tiada penyelesaian ujian kecuali berusaha dan bertawakal padaNya.
Serta menjadikan Al-Quran sebagai refrensi serta rujukan belajarnya. Atau mungkin ia lupa pada ayat-ayat termasyurNya…
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”.
(QS. Ar Raรกd:11)
Futur dalam dakwah serta merasa bosan adalah hal yang sering terjadi pada diri para pengemban dakwah. Terus terbuai dalam kefuturan adalah kesempatan emas bagi syeitan untuk mendekat. Berusaha mengelabui manusia dengan sejuta iming-iming hal yang jauh lebih menyenangkan dan menguntungkan jadi rayuan mautnya. Kebosanan karena dakwah tanpa perubahan jadi alasan tertarik dengan beribu aktifitas mubah yang melenakan. Dakwah bukan lagi aktifitas kegemarannya, apalagi poros dalam hidupnya.
Wahai saudaraku dakwah bukan sekedar pengisi waktu luang, bayangkan jika Rasulullah dan para sahabat merasakan hal yang sama. Mereka berhenti karena futur dan bosan menyeru agama Allah serta tak sanggup karena cacian serta siksaan yang mendera tubuhnya, akankah agama haq ini sampai pada kita?
Akankah Islam masih tercium wanginya oleh kita sampai hari ini? Ataukah Islam hanya akan tinggal sejarah tanpa prasasti?
Merasa belum cukup ilmu dan belum pantas berdakwah. Satu ungkapan yang lebih pantas disebut sebagai penyesatan pemikiran. Lalu mundur teratur dengan kesadaran penuh, seolah ada sekat-sekat tak kasat mata dalam berdakwah.
Dakwah seolah hanya milik mereka yang bertitlekan ustadz atau kyai. Menyeru di podium dan forum-forum besar disaksikan jutaan umat. Diliput stasiun TV swasta, atau siaran langsung di radio terkemuka. Haruskah ia seseorang hafidz Quran dan hafal ribuan hadist di luar kepala yang boleh berbicara? Bukan, bukan itu.
Coba kita ingat kembali sang pohon beringin di sudut lapangan. Akarnya yang kokoh menopang besarnya batang dan rimbunnya dedaunan. Akarnya akan selalu terus mencoba mencukupi asupan nutrisi yang diperlukan batang dan daunnya.
Begitu juga dengan kita, jika diri ini merasa masih sedikit ilmu yang dimiliki cobalah terus menambah tsaqafah. Datangi majelis-majelis ilmu, forum-forum diskusi, menambah wawasan dengan buku dan media bacaan lainnya bisa jadi pilihan. Memilih dan memilah nutrisi terbaik.
“Sampaikanlah walau satu ayat” sebuah hadist yang mungkin sudah ribuan kali kita dengar ikut andil sebagai penyemangat.
Tak ada alasan berdiam diri hanya karna merasa belum banyak ilmu. Justru diam akan menambah busuk pemikiran. Rusak dan makin jenuh. Tak ada aktivitas mengingat lewat menyampaikan.
Yang dipelajari hanya tersimpan rapat tanpa fungsi. Masihkah enggan kita menyampaikan? Masih malaskah kita membagi indahnya Islam dan iman?
Nutrisi yang diserap oleh akar tidak hanya untuk kokohnya batang. Ada jutaan lembar daun dan biji buah. Beringin tak tumbuh hanya dengan batang. Daun dan buah jadi penyempurna menyebutnya tanaman.
Dakwah adalah aktifitas wajib bagi yang mengaku dirinya seorang muslim. Sama halnya dengan sholat lima waktu dan puasa ramadhan.
Menafkahi keluarga bagi seorang suami dan ummu warobatul bait atau ibu dan sebagai pengatur rumah tangga bagi seorang istri juga termasuk perkara yang wajib.
Dunia kapitalis saat ini memang mendesak siapapun untuk mengejar materi, tapi bukan berarti bisa dijadikan dalih untuk menggugurkan kewajiban yang lain.
Jelas seruan sang Khaliq dalam kitabnya…
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.
(QS. Al-Imron: 110).
Dakwah ibarat bisnis Multi Level Marketing, keuntungan yang didapat bisa berlipat ganda seiring bertambahnya anggota.
Bedanya dakwah keuntungannya tak kan mengurangi sedikitpun keuntungan anggotanya yang lain.
Di perjelas dalam sebuah hadist…
“Siapa saja yang menyeru manusia pada hidayah, maka ia mendapatkan pahala sebesar yang diperoleh oleh orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka”.
(HR. Muslim).
Masih ragukah kita dengan mulianya jalan dakwah ini? Atau harus berapa banyak lagi alasan-asalan yang akan kita utarakan untuk terus menghindar.
Segarkan dakwah kita dengan manisnya berbagi, dengan potongan untaian kata-kata indah lewat lisan kita.
Berbagi indahnya islam dengan sesama, menebar wangi peradaban gemilang. Semua dimulai dari langkah kecil kita, lewat genggam erat keteguhan hati kita. Saudaraku, teruslah berdakwah.
Karna dakwah adalah kewajiban bukan pilihan.
Jalan dakwah memang tak semulus yang kita bayangkan, seleksi alam terus saja memainkan peranannya. Cobaan dan ujian terus saja datang. Menerpa dan mencoba goyahkan azzam seorang pengemban dakwah. Tak pandang bulu, menyergap serta menyerang siapa saja, yang sudah bertahun-tahun memilih dakwah sebagai jalan hidupnya. Atau seseorang yang baru saja mencoba beranikan diri mengenal tentang indahnya berbagi.
Bermacam ujian dengan segala rupa dan bentuknya terurai, mencari keikhlasan niat dan perasaan sang pengembannya. Bermacam alasan terus saja terucap, sebagai dalih pembenaran diri.
Seseorang disana berujar, “Aku sudah tak sanggup berada di jalan dakwah ini, cobaanku terlalu berat”. Dengan enteng terlontar dari mulut seorang yang merasa hanya dia yang punya masalah dalam hidup ini. Tak taukah ia cobaan hidup sebagai ujian kenaikan tingkat kualitas keimanan.
Disisi lain ada juga yang berkata, “Aku sedang futur, jenuh dan merasa bosan. Biarkan aku sendiri untuk sementara waktu”. Ia lupa jika sendiri dalam futur syeitan yang menemani. Dakwah bukan sekedar rutinitas tanpa konsekwensi, dengan mudah kita mengatakan bosan dan beralih kelain aktivitas yang jauh lebih menyenangkan dan menguntungkan. Atau selingan di kala waktu senggang.
Seseorang yang lain juga tak mau ketinggalan mengungkapkan isi hatinya “Aku masih baru, belum ada pengalaman. Ilmuku juga masih sedikit, jadi… belum siap berdakwah”. Ada kata yang lebih singkat menggantikan ungkapan itu “Aku masih malas berdakwah”. Jauh lebih sederhana bukan? Satu kalimat yang cukup mewakili ribuan alasan.
Seseorang yang merasa memiliki tanggung jawab lebih ikut berseloroh “Aku kepala rumah tangga, kewajibanku menafkahi anak istri”. Ingkarkah ia pada ayat-ayat Allah tentang kewajiban menyeru pada yang ma’ruf dan mencegah pada yang mungkar? Mungkin sedikit terlupa karna kesibukan aktifitas mengumpulkan materi ketika ada dua hal yang wajib maka tak ada alasan meninggalkan salah satunya untuk yang lainnya. Atau ada kebijakan baru dalam dirinya, ketika puasa ramadhan berlangsung maka gugur kewajibannya untuk melaksanakan sholat lima waktu?.
Pohon beringin di sudut lapangan senantiasa menggugurkan daunnya. Jika kita perhatikan lebih seksama tiap lembaran daun yang berjatuhan tak semuanya tua dan menguning. Diantara tumpukan sampah itu ada pula daun yang masih muda dan hijau.
Bahkan yang masih baru bertunas pun bisa kita temukan. Pohon beringin terus tumbuh dan menjulang tinggi. Kuat batangnya yang berdiri menunjukkan kokohnya akar yang menopang.
Rimbun daunnya terus bertunas, memperteduh sekitarnya. Kuat batang dan rindang daunnya sebagai sebuah pertanda, betapa subur tanah sebagai medianya yang mampu menyediakan nutrisi yang di serap oleh akar.
Makin tinggi batangnya menjulang, makin besar pula angin yang berhembus. Salah satu alasan kenapa daunnya gugur berjatuhan.
Sedikit pengibaratan pohon beringin dengan dakwah. Rindang daunnya seperti para pengemban dakwah, yang jatuh dan berguguran bukan hanya mereka yang sudah terlalu lama menyerahkan hidup untuk berdakwah.
Ketika merasa cukup kontribusinya dalam dunia dakwah, maka pensiun pun sudah layak didapat.
Saat dunia sudah sangat mengenalnya, saat nama dan suaranya telah akrab diperdengarkan di seminar-seminar bertemakan Islam, training-training motivosi penggugah semangat juang, diskusi-diskusi publik pengasah pemikiran.
Saat suara lantangnya terlalu sering berorasi menentang kebijakan dzalim sebagai muhasabah para penguasa negeri.
Maka sudah pantas pula ia berujar “Sudah saatnya yang muda yang berkarya”.
Suatu kesombongan diri jika di perhatikan. Perasaan yang mungkin hanya dia seorang pemiliknya. Perlu diperjelas kembali niatannya berdakwah, sekedar mencari nama atau numpang tenar biar terkenal?.
Jika perasaanya mengatakan sudah cukup banyak kontribusinya dalam dunia dakwah dan sudah banyak pahala yang didapat, maka perlu disadari bahwa itu hanya skenario belaka.
Untaian penyejuk jiwa penuh pemanis muka tepatnya. Ataukah aroma hangus terbakarnya kemurnian niat ikhlas yang hanya meninggalkan jelaga pahala tanpa arti.
Ingatlah wahai saudaraku, Allah maha tau prasangka hambanya. Dakwah bukan hanya sekedar tongkat estafet yang ada kalanya harus berpindah tangan, dan saat ituh orang pertama terbebas dari tanggung jawabnya.
Mungkin memang benar estafet dakwah itu ada. Kita mewarisi tongkat estafet dakwah dari Rosulullah, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in serta para ulama terdahulu. Tak sedikit diantara mereka penuh peluh dan bersimbah darah berjuang demi sampai risalah Islam pada umat.
Ukiran ayat al-Quran dan kemasyuran sejarah yang mengabadikan nama merekapun, belum cukup rasanya sebagai bayaran keikhlasan atas melayangnya nyawa mereka demi Islam.
Surga adalah jaminan tertinggi dari Allah yang selalu bisa mengalihkan ganasnya medan tempur melawan kaum kafir. Lalu apa yang pantas kita banggakan?
Apakah sisa-sisa jelaga pahala yang terbakar dari kesia-siannya aktifitas dakwah yang kita lakukan. Atau tak nampaknya kesombangan yang berdiam dalam diri. Hanya kita yang mampu menjawabnya.
Hembusan angin yang menerpa rimbunnya daun beringin terus bertiup, menggoyang lembar demi lembar daunnya. Tak sedikit yang berjatuhan ke tanah. Makin tinggi pohon menjulang, makin besar pula angin yang berhembus. Ibarat dalam hidup ini, masalah dan cobaan silih berganti datang menyapa. Ujian hidup non formal pun dimulai, tanpa buku pelajaran, bangku dan gedung sekolah yang abstrak tetap menuntut terselesaikannya ujian.
Hasil dari lulusnya ujian bukan kenaikan strata atau kelas dalam study, bukan pula dibubuhkannya nilai A dalam raport akhir semester. Tapi kenaikan kualitas keimanan, makin dekatnya seorang hamba pada sang Khaliq karena tiada penyelesaian ujian kecuali berusaha dan bertawakal padaNya.
Serta menjadikan Al-Quran sebagai refrensi serta rujukan belajarnya. Atau mungkin ia lupa pada ayat-ayat termasyurNya…
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”.
(QS. Ar Raรกd:11)
Futur dalam dakwah serta merasa bosan adalah hal yang sering terjadi pada diri para pengemban dakwah. Terus terbuai dalam kefuturan adalah kesempatan emas bagi syeitan untuk mendekat. Berusaha mengelabui manusia dengan sejuta iming-iming hal yang jauh lebih menyenangkan dan menguntungkan jadi rayuan mautnya. Kebosanan karena dakwah tanpa perubahan jadi alasan tertarik dengan beribu aktifitas mubah yang melenakan. Dakwah bukan lagi aktifitas kegemarannya, apalagi poros dalam hidupnya.
Wahai saudaraku dakwah bukan sekedar pengisi waktu luang, bayangkan jika Rasulullah dan para sahabat merasakan hal yang sama. Mereka berhenti karena futur dan bosan menyeru agama Allah serta tak sanggup karena cacian serta siksaan yang mendera tubuhnya, akankah agama haq ini sampai pada kita?
Akankah Islam masih tercium wanginya oleh kita sampai hari ini? Ataukah Islam hanya akan tinggal sejarah tanpa prasasti?
Merasa belum cukup ilmu dan belum pantas berdakwah. Satu ungkapan yang lebih pantas disebut sebagai penyesatan pemikiran. Lalu mundur teratur dengan kesadaran penuh, seolah ada sekat-sekat tak kasat mata dalam berdakwah.
Dakwah seolah hanya milik mereka yang bertitlekan ustadz atau kyai. Menyeru di podium dan forum-forum besar disaksikan jutaan umat. Diliput stasiun TV swasta, atau siaran langsung di radio terkemuka. Haruskah ia seseorang hafidz Quran dan hafal ribuan hadist di luar kepala yang boleh berbicara? Bukan, bukan itu.
Coba kita ingat kembali sang pohon beringin di sudut lapangan. Akarnya yang kokoh menopang besarnya batang dan rimbunnya dedaunan. Akarnya akan selalu terus mencoba mencukupi asupan nutrisi yang diperlukan batang dan daunnya.
Begitu juga dengan kita, jika diri ini merasa masih sedikit ilmu yang dimiliki cobalah terus menambah tsaqafah. Datangi majelis-majelis ilmu, forum-forum diskusi, menambah wawasan dengan buku dan media bacaan lainnya bisa jadi pilihan. Memilih dan memilah nutrisi terbaik.
“Sampaikanlah walau satu ayat” sebuah hadist yang mungkin sudah ribuan kali kita dengar ikut andil sebagai penyemangat.
Tak ada alasan berdiam diri hanya karna merasa belum banyak ilmu. Justru diam akan menambah busuk pemikiran. Rusak dan makin jenuh. Tak ada aktivitas mengingat lewat menyampaikan.
Yang dipelajari hanya tersimpan rapat tanpa fungsi. Masihkah enggan kita menyampaikan? Masih malaskah kita membagi indahnya Islam dan iman?
Nutrisi yang diserap oleh akar tidak hanya untuk kokohnya batang. Ada jutaan lembar daun dan biji buah. Beringin tak tumbuh hanya dengan batang. Daun dan buah jadi penyempurna menyebutnya tanaman.
Dakwah adalah aktifitas wajib bagi yang mengaku dirinya seorang muslim. Sama halnya dengan sholat lima waktu dan puasa ramadhan.
Menafkahi keluarga bagi seorang suami dan ummu warobatul bait atau ibu dan sebagai pengatur rumah tangga bagi seorang istri juga termasuk perkara yang wajib.
Dunia kapitalis saat ini memang mendesak siapapun untuk mengejar materi, tapi bukan berarti bisa dijadikan dalih untuk menggugurkan kewajiban yang lain.
Jelas seruan sang Khaliq dalam kitabnya…
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.
(QS. Al-Imron: 110).
Dakwah ibarat bisnis Multi Level Marketing, keuntungan yang didapat bisa berlipat ganda seiring bertambahnya anggota.
Bedanya dakwah keuntungannya tak kan mengurangi sedikitpun keuntungan anggotanya yang lain.
Di perjelas dalam sebuah hadist…
“Siapa saja yang menyeru manusia pada hidayah, maka ia mendapatkan pahala sebesar yang diperoleh oleh orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka”.
(HR. Muslim).
Masih ragukah kita dengan mulianya jalan dakwah ini? Atau harus berapa banyak lagi alasan-asalan yang akan kita utarakan untuk terus menghindar.
Segarkan dakwah kita dengan manisnya berbagi, dengan potongan untaian kata-kata indah lewat lisan kita.
Berbagi indahnya islam dengan sesama, menebar wangi peradaban gemilang. Semua dimulai dari langkah kecil kita, lewat genggam erat keteguhan hati kita. Saudaraku, teruslah berdakwah.
Karna dakwah adalah kewajiban bukan pilihan.
0 komentar:
Posting Komentar